Sabtu, 27 Februari 2010

hari ini jd keingat masa lalu,saat blm pakai jilbab,hehehe.......... menunggu kereta ditemani oleh segerombolan cewek yang sedang asik ngobrol di sampingku..

hmm.. ramai sekali.. biasalah cewek2..

Dan saat melihat mereka, aku jadi mengingat tentang diriku di zaman dulu.. yah.. duluuu.. sekali

Di zaman yang mungkin aku masih seperti mereka, belum berjilbab, belum ingin serius belajar agama, pergaulan yang masih seperti itu – baur antara laki-laki dan perempuan tanpa batas -, bahasa pergaulan yang digunakan masih begitu, penampilan baju yang terbuka, sempit, dan membentuk tubuh..

Ya, dulu aku pun pernah melakukan apa yang mereka kerjakan..

Dan kini, aku bersyukur dengan jilbabku..

Kenapa aku berjilbab?

Kalau kini aku belum berjilbab, mungkin aku akan seperti mereka.. pergaulan yang cair antara perempuan dan laki-laki

Kalau kini aku belum berjilbab, mungkin tiada waktu yang akan kuhabiskan tanpa membicarakan cowok dan pacaran

Kalau kini aku belum berjilbab, mungkin sapaan harianku menggunakan bahasa seperti “lo”, “gw”, “bokap”, “nyokap”, dsb. bahasa yang mungkin biasa bagi sebagian orang, tapi bukan kebiasaanku selama ini

Kalau kini aku belum berjilbab, mungkin aku akan suka menggunakan istilah-istilah anj***, ta*, sia*, b*b*, dsb. Padahal perkataan adalah sebagian dari akhlak

Kalau kini aku belum berjilbab, mungkin weekend ku akan kuhabiskan untuk pergi hang out, nonton film, shopping, pacaran, terus-terusan non stop sampai pulang tengah malam tak jadi masalah

Kalau kini aku belum berjilbab, mungkin aku akan masih menjadi orang yang sangat enggan untuk membaca Al-Qur’an, sholat di awal waktu, dan malas untuk belajar agama

Kalau kini aku belum berjilbab, mungkin aku akan malas ikut-ikut kajian, apalagi sampai berkecimpung dalam dakwah

Kalau kini aku belum berjilbab, mungkin aku tidak akan pernah memikirkan sedikitpun permasalahan dakwah apalagi sampai mencakup masalah palestina

Kalau kini aku belum berjilbab, mungkin aku tidak akan pernah merasakan manisnya ukhuwah dan indahnya buah amal jama’i

Memang, tak semua orang yang belum berjilbab itu seperti yang kuutarakan.. tapi yang kuutarakan ini adalah perandaian jika aku belum berjilbab mungkin aku akan jadi orang yang seperti apa.. dan kebanyakan akan menjadi seperti itu.

Berjilbab pun juga, tak semua orang berjilbab sudah menjadi baik, masih banyak sekali yang berjilbab kepala namun pakaiannya membentuk tubuh. Lebih banyak lagi yang berjilbab kepala, tapi tak berjilbab hati dan akhlak.

Jilbab, ia tak hanya selembar kain penggugur kewajiban bagi muslimah

Tapi ia adalah sarana bagi muslimah untuk memperbaiki dirinya,, berusaha agar semakin mendekatkan dirinya pada Allah,, dan berharap agar dapat memasuki JannahNya.

Karena itu, banggalah dengan jilbab, karena ia adalah identitasmu sebagai muslimah dan bukti bahwa kau ingin semakin dekat padaNya.

Syukurilah atas nikmat hidayah yang telah kau dapat.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)